Showing posts with label Dongeng. Show all posts
Showing posts with label Dongeng. Show all posts

Legenda Tinggi Raja


Pada jaman dahulu kala di daerah Simalungun ada sebuah kerajaan kecil yang dipimpin Raja Purbasilangit. Pada suatu hari permaisuri melahirkan seorang puteri yang cantik jelita parasnya. Oleh karena itu Sang Puteri sangat disayang oleh Raja Purbasilangit dan permaisurinya.

Setiap tahun Raja Purbasilangit selalu mengadakan upacara menanam padi di ladang. Seperti biasa Raja bersama Permaisuri dan segenap penduduk kerajaan ikut dalam upacara itu. Namun kali ini puteri kesayangan mereka tidak diajak serta, karena raja dan permaisuri khawatir puterinya akan kelelahan dan rusak kulitnya disengat sinar matahari. Meskipun Sang Puteri meminta berkali-kali agar diperkenankan ikut, tetapi permintaan itu tetap ditolak kedua orangtuanya.

Tinggallah Sang Puteri sendiri di istana yang bernama rumah bolon. Hatinya sangat sedih. Ia pun menangis. Tangisan itu terdengar oleh neneknya, yaitu ibu dari Raja Purbasilangit.

Sang Nenek menanyakan perihal kesedihan Sang Puteri sehingga menangis. “Hamba ingin ikut ke ladang menghadiri upacara menanam padi. Tetapi tidak diperkenankan oleh ayah ibu,” jelas Sang Puteri.

Mendengar keterangan cucu kesayangannya, Sang Nenek menyusruh Sang Puteri memasak air di belanga yang besar sekali. Ke dalam belanga itu harus pula dimasukkan sepoong daging. Semua yang diperintahkan neneknya, dikerjakan oleh Sang Puteri.

Setelah air dalam belanga mendidih dan dagingnya lembek, neneknya menyuruh Sang Puteri untuk masuk ke dalam belanga. Karena Sang Puteri yakin neneknya tidak akan mencelakakan dirinya, masuklah ia ke dalam belanga yang berisi air mendidih itu.

Beberapa saat kemudian setelah Sang Puteri masuk ke dalam belanga, ia menjelmalah menjadi seekor merpati yang cantik sekali. Kemudian merpati itu terbang menuju ladang ayahnya. Tak lama kemudian ditampaklah merpati itu terbang berputar-putar di angkasa sambil bernyanyi-nyanyi.

Orang-orang di ladang jadi tercengang mendengar nyanyian merpati itu karena suaranya menyerupai suara manusia.

Raja Purbasilangit dan Permaisuri sangat terkejut mendengar nyanyian tersebut. Mereka pun teringat pada Sang Puteri yang mereka tinggalkan di istana, sebab suara merpati itu menyerupai suara Sang Puteri.

Mereka teringat kalau mereka telah lupa tidak menyuruh mengantar makanan untuk Sang Puteri dan Ibu Raja Purbasilangit yang tinggal di istana.

Raja segera memerintahkan seseorang agar pergi mengantar makanan ke istana. Sengaja raja dan permaisuri memilihkan makanan yang paling enak, akan tetapi makanan itu dimakan sebagian oleh suruhannya di tengah perjalanan, kemudian sisanya diberikan kepada Ibu Raja Purbasilangit.

Saat nenek itu mengetahui kalau makanan yang dberikan kepadanya adalah sisa, perasaan orangtua itu sangat tersinggung. Ia menjadi marah sekali. Karena itu pergilah ia menangkap seekor kucing. Kepala kucing itu diikatnya dengan kain pengikat kepala yang biasa dipakai oleh perempuan kalau melakukan tarian adat. Setelah itu, dia memanggil beberapa orang anak untuk mengikutinya ke balai pertemuan dekat istana

Ia menyuruh anak-anak itu memainkan gendang. Kucing itu ia suruh menari-nari. Tak lama kemudian awan gelap mulai menutup langit dan terdengar suara petir menggelegar. Seiring dengan itu terjadilah gempa yang sangat kuat. Mereka yang sedang melakukan upacara di ladang menjadi ketakutan dan berlari kian kemari untuk menyelamatkan diri.

Namun tak seorang pun dari mereka yang selamat. Semua hilang ditelan bumi. Kini lenyaplah kerajaan Purbasilangit bersama semua pengisinya. Sebagai gantinya terbentuklah sebuah gunung di bekas tempat kerajaan itu. Di kemudian hari, gunung itu dinamakan Gunung Tinggi Raja.

Puluhan tahun kemudian, setelah kejadian gempa hebat itu, di sekitar Gunung Tinggi Raja tumbuh hutan lebat. Di tengah hutan tumbuh tanaman bunga beraneka warga. Menurut kepercayaan, bunga-bunga tersebut merupakan penjelmaan dari permaisuri dan para pengikutnya.

Di kawasan tersebut terdapat pula tanah membukit yang bentuknya menyerupai istana yang disebut rumah bolon. Selain itu terdapat pula unggukan tanah yang bentuknya menyerupai lesung besar yang pada zaman dahulu terdapat di kerajaan Raja Purbasilangit.

KESIMPULAN:
Cerita ini merupakan legenda yang hidup dalam masyarakat Simalungun, yaitu kisah asal usul terjadinya Gunung Tinggi Raja yang hingga kini terdapat di daerah Simalungun, Sumatera Utara.

Legenda Nama Madura


Pada zaman dahulu kala tersebutlah sebuah kerajaan di atas pegunungan Tengger bernama Medangkamulan. Kerajaan itu diperintah oleh Prabu Gilingwesi dan dibantu oleh seseorang perdana menteri bernama Patih Pranggulang.

Akhir-akhir ini Prabu Gilingwesi merasa sedih karena putrinya yang cantik jelita bernama Raden Ayu Tunjung Sekar belum juga mau bersuami. Telah banyak lamaran dari para putera mahkota negara-negara tetangga, namun semua ditolak Sang Putri dengan alasan belum waktunya untuk berkeluarga.

Pada suatu malam, Tunjung Sekar bermimpi. Ia seakan sedang berjalan-jalan di tengah kebun bunga. Tiba-tiba bulan purnama muncul di langit yang bersih. Ia terpesona melihat sinar bulan itu. Bulan itu pun turun dan mendekat kemudian masuk ke dalam tubuh Tunjung Sekar.

Tunjung sekar terbangun. Lalu ia menanyakan arti mimpinya itu kepada inang pengasuhnya.“Mimpi itu hanya kembang angan-angan saja saat tidur,” hibur inang pengasuhnya.

Beberapa bulan kemudian putri Tunjung Sekar ternyata hamil. Prabu Gilingwesi merasa terpukul mendengar putrinya hamil tanpa suami.

Puteri Ayu Tunjung Sekar pun dipanggil menghadap Baginda. Ayahanda Prabu menanyakan asal mula kejadiannya. Sang Puteri pun bercerita tentang mimpinya itu panjang lebar, namun Prabu Gilingwesi tidak percaya pada keterangan puterinya itu.

Dengan marah Baginda Raja memanggil Patih Pranggulang. “Patih! Bawalah Tunjung Sekar ke hutan. Bunuhlah ia sebagai hukuman atas dosanya mencemarkan kehormatan negara,” perintah raja.

Patih Pranggulang pun membawa Tunjung Sekar ke dalam hutan. Sampailah mereka di sebuah hutand ekar pinggir laut. Puteri Ayu Tunjung Sekar berhenti dan duduk di atas sebuah bukit.

“Aki Patih,” ujar Tunjung Sekar, ”silahkan hukuman mati untukku kau laksanakan. Tetapi ngat kalau tidak bersalah, engkau tidak akan bisa membunuhku.”

Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjung Sekar. Akan tetapi, sebelum menyentuh tubuh Sang Puteri, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang pun memungut pedang itu kembali. Sewaktu diayunkan kembali ke leher Sang Puteri, pedang itu jatuh kembali. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal seperti itu, tetapi selalu gagal.

Akhirnya Patih Pranggulang menyimpulkan bahwa Sang Puteri tidak bersalah. Ia pun menyembah. “Tuan Puteri sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Saya akan membuat rakit untuk Tuan Puteri naiki menyeberang laut. Hamba sendiri tidak akan kembali ke keraton. Hamba akan bertapa sambil mendoakan Tuan Puteri agar selalu selamat.”

Setelah rakit jadi, Tunjung Sekar berangkat ke tengah laut meninggalkan Patih Pranggulang di tepi pantai. Menjelang malam Patih Pranggulang masuk hutan. Sejak itu ia mengganti namanya menjadi Ki Poleng. Adapun rakit yang dinaiki Tunjung Sekar dibawa arus ke utara. Ia pasrah pada Yang Kuasa.

Pada suatu malam bulan purnama, tiba-tiba perut Tunjung Sekar terasa sakit. Beberapa saat kemudia ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang elok parasnya. Karena anak itu lahir di tengah laut, maka ia diberi nama Raden Sagara. Menurut istilah Madura, sagara berarti laut.

Beberapa hari kemudian, tampaklah sebuah pulau. Tunjung Sekar sangat gembira. Rakit pun menepi. Tunjung Sekar segera turun ke darat sambil menggendong puteranya. Setibanya di darat terjadi keajaiban. Raden Sagara segera meloncat ke tanah sambil berlari ke sana kemari. Tubuhnya semakin besar, seperti anak berumur dua tahun.

Raden Sagara dan ibunya tiba di sebuah tanah lapangan yang luas. Di sudut lapang itu terdapat sebuah pohon. Pada salah satu dahannya terdapat sarang lebah yang cukup besar. Saat Raden Sagara mendekati pohon tersebut, lebah-lebah itu beterbangan menjauhi sarangnya, seakan-akan memberi kesempatan kepada Raden Sagara untuk menikmati madu. Raden sagara segera mengambil madu dan menikmatinya bersama ibunya.

Selanjutnya Puteri Ayu Tunjung Sekar bersama puteranya tinggal di pulau tersebut. Kemudian tempat itu diberi nama Madura, yang berasal dari kata Madu era-era. Artinya, madu di tanah daratan.

KESIMPULAN:
Legenda ini mengisahkan asal usul nama sebuah tempat serta berisi pelajaran bahwa orang yang tabah menghadapi cobaan dan rintangan hidup, kelak akan mendapatkan kebahagiaan.

Kutukan Aki Monggor

Aki Monggor adalah seorang petapa sakti. Penduduk di kaki Gunung Pabeasana suka meminta bantuan. Aki Monggor dengan senang hati melakukannya. Aki Monggor dengan senang hari melakukannya. Ia memang seorang yang welas asih duka menolong tanpa pamrih.

Suatu ketika penyakit aneh menimpa penduduk. Bisul-bisul kecil bermunculan di sekujur tubuh mereka. Bisul yang pecah mengeluarkan nanah yang bau sekali. Penduduk amat tersiksa. Mereka pun menemui Aki Monggor yang tinggal di puncak Gunung Pabeasan.

“Baiklah,” ucap Aki Monggor. “Sekarang kalian pulanglah. Aku akan berusaha mendapatkan obatnya.” Penduduk segera kembali. Setelah itu Aki Monggor melakukan semedi untuk mendapat petunjuk dari para dewa.

Di hari ketujuh semedinya, Aki Monggor dibangunkan oleh seorang kakek berjubah putih. “Aku adalah Dewa Penolak Bala” katanya. Lalu ia mengeluarkan cupu kecil dari balik jubahnya. Cupu itu diberikan pada Aki Monggor. “Cupu ini berisi air kayangan. Gunakan untuk menyembuhkan penyakit penduduk. Caranya percikkan pada tubuh mereka. Lalu katakana pada mereka itu merupakan peringatan dari para dewa karena para dewa tidak suka dengan kebiasaan mereka yang sering mabuk-mabukan. Dan katakana pula, sebelum seratus hari kesembuhan, mereka tidak boleh mengadakan pesta apapun,” ujar dewa itu panjang lebar. Kemudian Sang Dewa Penolak Bala itu pun menghilang.

Aki Monggor lalu menuruni Gunung Pabeasan. Penduduk menyambut dengan gembira. Aki Monggor segera mengobati mereka seorang demi seorang. Ajaib penyakit bisul yang diderita mereka hilang tanpa bekas setelag diperciki air pemberian dewa penolak bala.

Setelah semua penduduk dapat disembuhkan, Aki Monggor menyampaikan pesan dewa. Penduduk berjanji akan mematuhinya. Namun, kepatuhan tidak berlangsung lama. Baru tujuh hari mereka sembuh, kebiasaan untuk melakukan pesta mabuk-mabukan muncul kembali. Pada pesta itu berpuluh-puluh kendi menuman keras mereka habiskan.

Aki Monggor yang tahu kejadian itu menjadi sangat marah. Ia segera menemui penduduk. “Kalian benar-benar tidak tahu diri!” ujarnya. “Kini rasakan apa yang bekal menimpa kelian.”

Petapa sakti itu kemudian memohon kepada para dewa agar menjatuhkan bala pada penduduk yang telah melanggar larangan itu. Lalu hujan pun turun dengan lebatnya. Hujan terus turun tak henti-hetinya menyebabkan banjir besar. Penduduka banyak yang tenggelam dan binasa. Konon daerah tempat para penduduka itu tinggal adalah daerah yang kini bernama Kampung Cimoggor.

Ada hal yang aneh yang dapat kita temui di kampung itu pada masa sekarang. Jika ada warga kampung yang mengadakan pesta, baik pesta pernikahan atau khitanan. Hujan selalu turun. Oarng berkata itu terjadi karena kutukan yang pernah dilontarkan Aki Monggor terhadap penduduk kampung di masa lalu, yang tidak mematuhi janjinya sendiri.

KESIMPULAN
Cerita ini memberi pelajaran kepada kita bahwa melanggar suatu larangan dapat berakibat buruk.